Wednesday, December 6, 2017

SEKOLAH TERBAIK

Saat saya duduk di bangku sekolah kelas XII, saya mulai cari-cari beasiswa untuk melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi. Saya sadar pendidikan itu sangat penting di zaman sekarang ini yang sudah memasuki MEA atau Masyarakat Ekonomi Assean. Oleh karena itu saya sangat ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Saat saya cari – cari informasi kesana – kemari, mulai dari wawancara ke guru – guru dan searching dari internet, saya mendapatkan informasi bahwa ada beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas negri ternama di indonesia. Dan kebetulan universitas itu menjadi salah satu dari beberapa universitas impian saya.
Imformasi pertama yang saya dapat adalah beasiswa BCA yang di selenggarakan oleh bank BCA. Saya seaching di internet dan bertanya kepada guru-guru seputar beasiswa BCA tersebut. Mulai dari cara pendaftarannya, bagaimana testingnya dan hal lainnya seputar beasiswa tersebut.
Disaat pertama kali saya tau mengenai beasiswa BCA tersebut, saya merasa senang dan penuh harap sekali bisa ikutan dan lolos. Saya memberanikan diri untuk memulai daftar lewat online dan mengirimkan data – data saya ke server. Semua data sudah saya siapkan, dan siap untuk diupload.
Ketika saya akan mengupload data nilai saya, terdapat keterangan yang tidak disampaikan oleh guru – guru saya bahwa sekolah dari calon penerima beasiswa harus berkurikulum KURTILAS. Dan kebetulan sekolah saya belum menerapkan kurikulum tersebut.
Setelah membaca keterangan tersebut saya kaget. Ada rasa kecewa, kesal dan marah kepada pihak sekolah saya karena kenapa sekolah saya belum menerapkan KURTILAS? Kenapa saya tidak bisa mengikuti beasiswa tersebut? Saya sangat marah dan kecewa sekali.
Tampak penyesalan dan kekecewaan yang mendalam dalam diri saya. Kenapa saya tidak bisa mengikuti program tersebut? Saya sempat berfikir bahwa Allah tidak adil terhadap saya. Kenapa saya yang begitu ingin sekolah malah tidak diberi kesempatan?. Kenapa Allah tidak memberi saya kemudahan?.
Seiring berjalannya waktu saya merenung dalam hati atas kegagalan tersebut. Saya sempat berfikir putus asa untuk tidak mau melanjutkan pendidikan lagi. Saya tidak berani lagi mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.
Tidak lama kemudian saya ditawari beasiswa lagi oleh guru saya. Saya ditawari Beasiswa Anak Tani (BAT). Pada awalnya saya tidak mau, dan tidak lagi tertarik dengan beasiswa-beasiswa untuk menlanjutkan pendidikan. Tapi guru-guru saya tetap memberikan penjelasan dan pengarahan tentang pentingnya pendidikan.
Setelah saya berenung yang kesekian kalinya, hati saya terbuka. Saya jadi tertarik lagi untuk mengikuti program beasiswa dan akhirnya saya daftar lagi. Saya mengumpulkan semua berkas yang diperlukan untuk pendaftaran test tersebut.
Semua berkas dan semua persyaratan sudah saya kirimkan. Beberapa hari kemudian saya menerima balasan  e-mail yang isi saya lolos dan dapat tawaran sekolah di Bandung. Saya sangat senang dan bangga sekali karena bisa lolos tes tersebut.
Saya langsung menceritakan berita ini kepada kedua orang tua saya. Saya sangat mengharapkan kebanggaan dari orang tua saya kepada saya. Saya menceritakan dengan perasaan senang kepada saya bahwa saya lolos, saya lolos beasiswa BAT.
Ternyata dugaanku salah besar. Harapanku akan kebanggaan orang tua kepadsaya salah. Saya fikir dengan lolosnya saya di beasiswa BAT ini bisa membuat kedua orang tusaya senang, bahagia dan tersenyum. Ternyata itu semua salah besar. Dugaanku salah besar.
Setelah saya menceritakan bahwa waya dapat beasiswa dan bisa masuk perguruan tinggi yang ada di Bandung, orang tua saya tersenyum sambil ingin mengatakan sesuatu. Ibu saya berkata kepada saya bahwa saya tidak boleh menerima beasiswa itu. Ibu saya merasa hawatir jika saya kuliah di Bandung saya akan memerlukan biaya hidup yang sangat besar. Ibu saya tidak mengijinkan saya sekolah di Bandung.
Kegagalan kedua sudah saya dapatkan, dan saya sangat kecewa yang kedua kalinya. Tapi pada kegagalan kali ini saya tidak putus asa. Saya bertekad untuk membuktikan kepada kedua orang tua saya bahwa saya ingin belajar, saya ingin kuliah. Saya ingin membuat kedua orang tua saya bangga kepadsaya.
Setelah kegagalan kedua saya dapatkan saya berdoa kepada Allah, saya tidak mau gagal lagi ya Allah, saya ingin kuliah, saya ingin membanggakan kedua orang tua saya. Saya bertanya lagi kepada guru-guru saya dimana perguruan tinggi terdekat yang ada Ciamis.
Saya mendapatkan informasi bahwa di Ciamis ada perguruan tinggi baru yang prestasinya lumaya baik yaitu STAI AL-MA'ARIF Ciamis. Saya cari-cari informasi yang berkaitan dengan STAI. Mulai dari prestasinya, eksistensinya dan apapun yang berkaitan dengan STAI. Setelah cari-cari informasi ternyata saya suka kepa STAI tersebut dan akhirnyabsaya daftar.
Saya daftar dan saya mengikuti tes tulis di STAI. Alhasil saya sangat bersyukur sekali kepada Allah SWT. Bahwa saya bisa lulus dan peringkat pertama di test tulis tersebut. Saya bersyukur karena bisa mendapatkan kesempatan lagi untuk mendapatkan beasiswa berkuliah.
Saya sadar kegagalan demi kegagalan yang saya hadapi dan alami merupakan penguat bagi saya. Saya sadar betul, bahwa Allah sangat sayang kepada saya. Saya bersyukur karena saya bisa merasakan kegagalan yang membuatku sadar akan pentingnya perjuangan dan pengorbanan.


Written by : Yoga Prayoga