Saat
saya duduk di bangku sekolah kelas XII, saya mulai cari-cari beasiswa untuk
melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi. Saya sadar pendidikan itu
sangat penting di zaman sekarang ini yang sudah memasuki MEA atau Masyarakat Ekonomi
Assean. Oleh karena itu saya sangat ingin sekali melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi lagi.
Saat
saya cari – cari informasi kesana – kemari, mulai dari wawancara ke guru – guru
dan searching dari internet, saya mendapatkan informasi bahwa ada beasiswa
untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas negri ternama di indonesia. Dan
kebetulan universitas itu menjadi salah satu dari beberapa universitas impian
saya.
Imformasi
pertama yang saya dapat adalah beasiswa BCA yang di selenggarakan oleh bank
BCA. Saya seaching di internet dan bertanya kepada guru-guru seputar beasiswa BCA
tersebut. Mulai dari cara pendaftarannya, bagaimana testingnya dan hal lainnya
seputar beasiswa tersebut.
Disaat
pertama kali saya tau mengenai beasiswa BCA tersebut, saya merasa senang dan
penuh harap sekali bisa ikutan dan lolos. Saya memberanikan diri untuk memulai
daftar lewat online dan mengirimkan data – data saya ke server. Semua data
sudah saya siapkan, dan siap untuk diupload.
Ketika
saya akan mengupload data nilai saya, terdapat keterangan yang tidak
disampaikan oleh guru – guru saya bahwa sekolah dari calon penerima beasiswa
harus berkurikulum KURTILAS. Dan kebetulan sekolah saya belum menerapkan kurikulum
tersebut.
Setelah
membaca keterangan tersebut saya kaget. Ada rasa kecewa, kesal dan marah kepada
pihak sekolah saya karena kenapa sekolah saya belum menerapkan KURTILAS? Kenapa
saya tidak bisa mengikuti beasiswa tersebut? Saya sangat marah dan kecewa
sekali.
Tampak
penyesalan dan kekecewaan yang mendalam dalam diri saya. Kenapa saya tidak bisa
mengikuti program tersebut? Saya sempat berfikir bahwa Allah tidak adil
terhadap saya. Kenapa saya yang begitu ingin sekolah malah tidak diberi
kesempatan?. Kenapa Allah tidak memberi saya kemudahan?.
Seiring
berjalannya waktu saya merenung dalam hati atas kegagalan tersebut. Saya sempat
berfikir putus asa untuk tidak mau melanjutkan pendidikan lagi. Saya tidak berani
lagi mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.
Tidak
lama kemudian saya ditawari beasiswa lagi oleh guru saya. Saya ditawari
Beasiswa Anak Tani (BAT). Pada awalnya saya tidak mau, dan tidak lagi tertarik
dengan beasiswa-beasiswa untuk menlanjutkan pendidikan. Tapi guru-guru saya
tetap memberikan penjelasan dan pengarahan tentang pentingnya pendidikan.
Setelah
saya berenung yang kesekian kalinya, hati saya terbuka. Saya jadi tertarik lagi
untuk mengikuti program beasiswa dan akhirnya saya daftar lagi. Saya
mengumpulkan semua berkas yang diperlukan untuk pendaftaran test tersebut.
Semua
berkas dan semua persyaratan sudah saya kirimkan. Beberapa hari kemudian saya
menerima balasan e-mail yang isi saya
lolos dan dapat tawaran sekolah di Bandung. Saya sangat senang dan bangga
sekali karena bisa lolos tes tersebut.
Saya
langsung menceritakan berita ini kepada kedua orang tua saya. Saya sangat
mengharapkan kebanggaan dari orang tua saya kepada saya. Saya menceritakan
dengan perasaan senang kepada saya bahwa saya lolos, saya lolos beasiswa BAT.
Ternyata
dugaanku salah besar. Harapanku akan kebanggaan orang tua kepadsaya salah. Saya
fikir dengan lolosnya saya di beasiswa BAT ini bisa membuat kedua orang tusaya
senang, bahagia dan tersenyum. Ternyata itu semua salah besar. Dugaanku salah
besar.
Setelah
saya menceritakan bahwa waya dapat beasiswa dan bisa masuk perguruan tinggi
yang ada di Bandung, orang tua saya tersenyum sambil ingin mengatakan sesuatu.
Ibu saya berkata kepada saya bahwa saya tidak boleh menerima beasiswa itu. Ibu
saya merasa hawatir jika saya kuliah di Bandung saya akan memerlukan biaya
hidup yang sangat besar. Ibu saya tidak mengijinkan saya sekolah di Bandung.
Kegagalan
kedua sudah saya dapatkan, dan saya sangat kecewa yang kedua kalinya. Tapi pada
kegagalan kali ini saya tidak putus asa. Saya bertekad untuk membuktikan kepada
kedua orang tua saya bahwa saya ingin belajar, saya ingin kuliah. Saya ingin
membuat kedua orang tua saya bangga kepadsaya.
Setelah
kegagalan kedua saya dapatkan saya berdoa kepada Allah, saya tidak mau gagal lagi
ya Allah, saya ingin kuliah, saya ingin membanggakan kedua orang tua saya. Saya
bertanya lagi kepada guru-guru saya dimana perguruan tinggi terdekat yang ada
Ciamis.
Saya
mendapatkan informasi bahwa di Ciamis ada perguruan tinggi baru yang
prestasinya lumaya baik yaitu STAI AL-MA'ARIF Ciamis. Saya cari-cari informasi
yang berkaitan dengan STAI. Mulai dari prestasinya, eksistensinya dan apapun
yang berkaitan dengan STAI. Setelah cari-cari informasi ternyata saya suka kepa
STAI tersebut dan akhirnyabsaya daftar.
Saya
daftar dan saya mengikuti tes tulis di STAI. Alhasil saya sangat bersyukur
sekali kepada Allah SWT. Bahwa saya bisa lulus dan peringkat pertama di test
tulis tersebut. Saya bersyukur karena bisa mendapatkan kesempatan lagi untuk
mendapatkan beasiswa berkuliah.
Saya
sadar kegagalan demi kegagalan yang saya hadapi dan alami merupakan penguat
bagi saya. Saya sadar betul, bahwa Allah sangat sayang kepada saya. Saya bersyukur
karena saya bisa merasakan kegagalan yang membuatku sadar akan pentingnya perjuangan
dan pengorbanan.
Written by : Yoga Prayoga
No comments:
Post a Comment